Argari




ada sebuah rumah
dengan atap yang tinggi menembus langit
aku berada di dalamnya
enggan keluar

hari ke-7....

Jam 12 malam tepat. Cepat, aku meloncat ke sudut kamar, meringkuk dalam ketakutan. Air hujan yang dibawa angin menepuk-nepuk kaca jendela menambah ketakutanku. Aku gemetar di sudut itu. Ada yang rompal dari pohon mangga di luar sana, sepertinya. Ada suara berdebum, mungkin dahannya patah dijatuhkan hujan angin.
“Manusia,” bisikku, “Pada terlelap dan bermimpi, hantu-hantu gentayangan mencari-cari.” Entah berapa puluh kali kata-kata itu kuucapkan, seperti aku menjadi tenang.
“Manusia pada terlelap dan bermimpi, hantu-hantu gentayangan mencari-cari ...”
Hujan seperti berhenti tiba-tiba. Sekitarku jadi remang cahaya dan aku merasa, aku telah berada di tempat lain. Tempat itu, hutan pinus itu.
“Ibu,” aku memanggil, entah kenapa. Bukankah dia...
“Ibu ...,” aku mengulangnya sekali lagi. Suaraku seperti merambat lambat di dalam air, mungkin itu memantul di batang-batang pohon pinus di sekitarku. Aku mencari-cari, memanggil-manggil berulang kali.
“Ibu, Ibu, Ibu...”
Angin lambai, abai dalam pikiranku. Tanah bergetar. Aku berjalan dalam keheningan yang luar biasa, pun dengan ketakjuban yang luar biasa. Bagai aku pernah berjalan di jalan ini, tapi aku tak tahu kapan. Mungkin di suatu waktu yang jauh, yang sudah tak mampu kuingat lagi.
Aku mendengar suara. Wahai, adakah yang bernyanyi? Ataukah suara angin yang melanda pohon-pohon pinus ini? Aku mendengar nyanyian. Aku mendengar nyanyian yang hanya kumengerti dalam hati. Bahasa yang tak kumengerti dengan telingaku, seperti dari tanah yang jauh.

ada sebuah rumah
dengan atap yang tinggi menembus langit
aku berada di dalamnya
enggan keluar

Aku terdiam, masih dalam ketakjuban. Suara itu, nyanyian yang membuat kalbuku menggigil. Kenapa, Tuhan, ada perasaan seperti ini? Aku teringat dahulu, saat aku masih kecil, kala ibuku tertawa bangga melihatku bernyanyi di hadapan ayah, kakek dan nenekku.
“Anak pintar,” masih terngiang ayahku, “Siapa mengajarimu?”
“Ibu!” jawabku cepat dan berlari mendapatkannya. Ibu memeluk dan menciumiku.
Tapi itu dulu sekali, sewaktu kenangan masih bukan kenangan dan aku kangen masa itu. Rindu. Begitu rindunya hingga aku menangis.
Aku kemudian jatuh berlutut. Bersujud di tanah berpasir. Kerinduan yang menggigit membawa kesedihanku membuana ke segala penjuru. Aku kembali tersadar, b
etapa asingnya tempat ini, begitu terasingnya aku...
“Andini ...,” tiba-tiba kudengar sebuah suara yang teramat kukenal. Ibu! Aku bangkit dengan cepat. Pandanganku yang lindap mengais-ngais ke segala arah. Benar suara itu ada, tapi tak kutemukan asalnya dengan biji mataku. Ada perasaan menggebu-gebu yang mendorongku, aku berlari. Sekelilingku adalah ilalalang kini, aku tak peduli. Kedua belah kakiku berderap-derap cepat membelahnya menuruti desakan dalam diriku yang aku pun tak mengerti. Tapi hingga jauh dan lelah, ilalang-ilalang ini tak jua pupus dari hadapanku.
Aku lemas dan jatuh seperti daun-daun kering di halaman yang lepas dari dahannya, yang setiap pagi selalu dibersihkan Ibu, yang sering kutusuk-tusuk dengan lidi bila tanah sedang basah, yang setiap sore dibakar Ayah di lubang sampah di halaman belakang...
Mataku mengerjap. Apakah ini aku, masih di sudut kamar menggigil ketakutan? Karena benar-benar kutakutkan bayangan-bayangan itu, hantu-hantu yang bermunculan dari jendela kamarku, mamandangiku seperti sesuatu yang mengherankan.
“Tidak ada apa-apa,” kuingat ibuku berkata suatu waktu, “Kau hanya sedang sakit.” Sakit. Mungkin gila. Dan kegilaanku itulah yang membuatnya pergi.
“Tidurlah. Ibu akan selalu menemanimu,” katanya sambil menyelimutiku. Itu dahulu, saat awal keanehan dalam diriku. Aku selalu terjaga di tengah malam. Kadang menangis, kadang berteriak-teriak histeris, kadang hanya berjalan-jalan mengitari rumah atau sejauh apapun yang menggerakkan kakiku tanpa tahu tujuan, bahkan melukai diriku sendiri. Tapi ibuku benar, ia selalu menemaniku, mengawasi setiap gerakku dan terus terjaga sepanjang malam.
Angin menyusup tiba-tiba lewat ventilasi kamar. Aku menggigil. Adakah hantu-hantu itu menyusup pula bersama angin?
“Manusia pada terlelap dan bermimpi, hantu-hantu gentayangan mencari-cari,” mantera itu kuucapkan lagi berkali-kali.
Usiaku 16 tahun ketika mulai banyak lelaki yang mendekatiku. Aku cantik, mempesona dengan kepribadian yang juga cantik. Kata Ibu, aku bagaikan ratu. Karenanya kupikir, aku harus mendapatkan seorang raja.
Aku tahu, entah bagaimana, seperti itu telah masuk dengan sendirinya ke dalam otakku, seseorang dari mereka telah melingkarkan jerat yang jahat pada leherku. Terkutuklah dia! Penderitaan padaku, juga bagi ayah dan ibuku. Aku tak bisa menerka-nerka siapa, bahkan setiap otakku berusaha untuk, aku tiada pernah bisa. Guna-guna itu begitu kuat, seutuhnya aku berada dalam genggamannya.
Angin menepuk-nepuk jendela kamarku tiba-tiba. Duh, bukankah ketakutanku tadi mulai reda? Tapi, bukankah jendela itu pintu masuk pilihan hantu-hantu itu? Jendela itu...
Ada saat-saat aku sangat menyukai jendela itu, seperti ia sebuah magnet dan aku bilah besinya. Sepanjang hari aku selalu berdiri di sana memandang keluar, pada tanah dan pepohonan di pekarangan.
“Kau sudah terlalu lama di sana, Andini. Kembali ke tempat tidurmu, karena angin musim lagi buruk-buruknya,” kata ibuku suatu kali. Tidak, bahkan selalu, setiap hari. Setiap aku terpacak di sana seperti batang pohon besar, bergeming hingga malam tiba dan menghitamkan pandanganku...
Aku bangkit.
“Manusia pada terlelap dan bermimpi, hantu-hantu gentayangan mencari-cari.”
Seperti aku menjadi tenang.

****

hari ke- 39.....

Jam 12 malam tepat. Aku meloncat ke sudut kamar. Tak ada angin, tak ada hujan, tapi ketakutan menyelubungiku. Tuhan, guna-guna ini masih ada? Kenapa aku tetap dalam ketakutan dan kenapa aku menjadi nelangsa? Aku rindu Ibu, tapi kenapa dia pergi? Kenapa dia pergi dan aku kehilangan pelindungku?
“Semua akan diakhiri, Andini,” katanya di suatu pagi. Aku hanya terdiam memandang matanya. Ya, akan diakhiri.
“Kau percayalah pada Ibu.” Dihentikannya belaiannya pada rambutku dan mendekatkan bibirnya ke kupingku.
“Percaya pada ibu,” bisiknya lagi dengan suara mengandung getar. Ada keharuan di sana, aku mengerti. Dia menangis, meninggalkan kamarku dengan langkah gontai. Aku pun kini berjalan gontai mengelilingi kamarku, memandangi foto-foto lama di meja belajarku, coretan-coretan tak karuan pada tembok kamar, tepat di sudut sana.
“Kau bisa mencoret-coret buku gambarmu sendiri, Andini. Tunggu sampai ayahmu tahu, kau pasti kena marah nanti,” kata Ibu ketika memergoki coretan-coretan itu. Tapi Ayah ternyata tak marah. Biarkan saja, katanya, karena aku sedang giat-giatnya berimajinasi. Akhirnya memang coretan-coretan itu tetap di sana, Ayah tidak pernah mengecat ulang tembok kamar ini. Ibu pun tidak pernah mempermasalahkannya lagi. Tapi lucunya, justru setelah itu aku tidak pernah lagi mengusik tembok kamar ini lagi dengan coretan-coretanku.
Lama aku memandangi itu, seperti aku tengah di sana, seperti aku tengah berada pada masa kecilku, berkreasi dengan pastelku...
Ada dua buah gunung sejajar dengan garis yang putus-putus dan asap mengepul dari kedua puncak kerucutnya. Ada sungai yang membentang panjang di bawahnya dan sawah-sawah lengkap dengan pohon-pohon padi yang jarang-jarang. Ada juga pesawat terbang, lalu burung-burung di angkasa. Ah, betapa lucunya. Ada pula tulisan nama-nama teman sepermainanku... Uli, Santi, Heni, Pupung...
Cahaya tiba-tiba remang. Muncul suara-suara yang tak kumengerti hilir-mudik di kedua belah kupingku. Tuhan, perasaan ini datang lagi! Aku menghambur mendapatkan sudutku. Aku benci perasaan ini, aku benci perasaan takutku...
Di hutan pinus ini, angin serasa mati dan gelembung-gelembung udara bergerak di sekitarku. Aku telah hapal jalan ini, telah hapal yang akan terjadi. Aku tahu semuanya pasti berulang kembali. Nyanyian itu. Nyanyian itu terdengar lagi menyusup ke inderaku.

ada sebuah rumah
dengan atap yang tinggi menembus langit
aku berada di dalamnya
enggan keluar

Aku menangis. Ada yang menghentak di dadaku ketika mendengar bait yang itu. Aku teringat Ibu. Aku teringat kata-katanya ketika berdiri mematung di pintu kamarku dan pagi itu terakhir kalinya kami bertemu.
“Tak akan ada lagi penderitaanmu, Andini.”
Ia menatapku lama. Kemudian dalam satu gerakan yang tenang ia meraih tanganku...
Aku berlari lagi kini, membelah ilalang di hadapanku hingga tersibak semua, terinjak-injak, berpatahan. Entah ke arah mana ini, tapi aku merasakan kesempatanku telah hampir habis. Aku seperti diburu-buru waktu. Waktu dan aku harus mendapatkan Ibu. Di ujung sana atau entah di bagian mana, aku yakin ia tengah menungguku.
“Andini...”
Aku berhenti. Di hadapanku kini berdiri megah sebuah rumah dengan atap yang tinggi menembus langit.
“Andini ...,” suara itu lagi. Di sanalah aku melihatnya, berdiri di ujung pelangi yang jatuh di atas kolam di tengah taman yang luas. Entah kenapa, aku tak kuasa berlari mendapatkannya seperti keinginanku.
“Andini, maafkan Ibu,” ia berkata. Wajahnya begitu damai dalam cahaya warna pelangi. Aku tak tahu apa yang dimaksudkannya ataupun apa yang harus kulakukan. Ketika kemudian ia mendekati dan memelukku, terasa lebur segala sendi dalam tubuhku. Aku menangis, kami menangis bersama…
Aku menangis di sudutku. Segalanya menjadi terang lampu kamar.
“Manusia pada terlelap dan bermimpi, hantu-hantu gentayangan mencari-cari..”
Tiba-tiba segalanya menjadi jelas, ada sebuah kesadaran yang menyusup masuk ke dalam otakku. Selama ini ia hanya tertutup, segala inderaku mati hingga aku hanya melihat apa yang ingin kulihat. Pandanganku kemudian mengarah pada cermin yang tergantung di tembok kamarku. Perlahan, dengan langkah yang beringsut aku mendekati itu dan memandang ke dalamnya.
Aku menjerit. Aku berlari dari sana, terhuyung dan hampir saja jatuh jika tidak segera mendapatkan sudutku. Kenyataan yang terhampar benar-benar memukulku, mengejutkan. Kenapa, Tuhanku? Segala pertanyaan melanda otakku dan otakku yang tidak mampu ini makin menjadi. Tapi, sungguh, kini segalanya berputar dengan cara yang benar dan sedikit demi sedikit kesadaranku akan menemukan jalannya dari ketidakmampuanku. Aku hanya terduduk di sudutku tak berbuat apapun, menunggu. Kesadaran itu perlahan-lahan terangkat ke permukaan, segala jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku terhampar. Entah, seperti ia menyusup masuk begitu saja ke dalam kepalaku. Suatu kenyataan.
Ya, aku mengerti. Segalanya menjadi jelas sekarang. Segalanya menjadi jelas, Tuhanku.
Aku bangkit.

****

hari ke- 40.....

Jam 12 malam tepat. Aku hanya berdiri mematung, tiada rasa takut yang asing seperti biasanya itu lagi. Waktuku memang hampir tiada lagi, karenanya aku harus menuntaskan ini semua. Kemudian aku bernyanyi. Suara yang parau menembus kesepian dinihari itu. Sebuah nyanyian yang hanya kumengerti dalam hati.

ada sebuah rumah
dengan atap yang tinggi menembus langit
aku berada di dalamnya
enggan keluar

Dengan hati dan sungguh tiada ketakutan lagi. Semua makin jelas kini. Semua makin jelas kini, Tuhan.
Pitu kamar terbuka perlahan. Seperti dalam gerakan yang lambat, Ayah berdiri di sana. Seperti lelah raut wajahnya, kelelahan yang sarat di balik tubuh kekarnya.
“Kembalilah tidur,” ia bersuara kemudian, sangat hati-hati dan penuh kelembutan. Aku tetap diam, hanya menatap tepat di matanya.
“Seharusnya kau mampu melepasnya. Tidak akan berlarut-larut seperti ini,” katanya kemudian. Ya. Tidak akan berlarut-larut karena aku telah mengerti dan akan mengakhiri semua.
Ayah mendekat, mencoba meraih leherku. Aku surut ke belakang.
“Kembalilah tidur,” bujuknya. Aku makin surut ke belakang.
“Aku akan mengakhiri ini, Ayah,” kataku. Ayah menghentikan gerakannya. Terkejut.
“Apa ... apa maksudmu?” ia terbata-bata.
“Aku akan akhiri ini agar Ibu bisa tenang.” Makin terkejut raut wajahnya, bibirnya nampak gemetar.
“Ayah,” lanjutku, “katakan pada Ibu, masa duka cita telah selesai. Takkan ada lagi malam-malam yang dilalui dengan menangis penuh penyesalan di kamar ini. Aku menyayanginya dan tidak ingin kehancuran dirinya.”
Terbayang malam-malam setelah hari itu Ibu selalu menangis di kamar ini. Dia tidak tahu, keadaannya yang demikian ternyata memperberat jalanku...
Penderitaanku dahulu memang begitu hebat dan tanpa harapan. Dalam kesakitanku yang tiada tara, tidak ada siapapun yang mampu tegak hatinya, terlebih lagi seorang ibu. Karenanya aku benar-benar memahami apa yang ada dalam pikirannya dan sama sekali tidak menyesali caranya untuk mengakhiri penderitaanku.
Aku lalu berjalan menuju cermin dan menatap ke dalamnya. Refleksi sosok Ibu terlihat di sana dengan wajah yang kuyu dan pucat, namun senyum di bibirnya begitu ikhlas, begitu tulus...
“Aku menyayangi Ibu. Aku tidak pernah menyesali apa yang Ibu lakukan,” aku berkata padanya, pada refleksi itu dan menangis. Ibu menangis.
Kurasakan kemudian tangan kekar Ayah merengkuhku dari belakang bersamaan dengan perasaan kosong yang melandaku saat itu. Tubuhku terasa ringan dan perlahan kurasakan melayang. Masih pula kurasakan Ayah mempererat pelukannya menahan tubuh Ibu agar tak tumbang.
Aku pergi.
Suatu keheningan yang mendamaikan menyelimuti ketika aku merasa menyatu dengan butir-butir ion udara yang membawaku melanglang ke keluasan alam semesta. Kenangan-kenangan memenuhi otakku seperti sebuah catatan yang dibukakan dari awal hingga akhir. Terdengar tawa-tawa bahagia Ayah dan Ibu. Terdengar pula tangis pertamaku...
Pagi itu ibu berdiri di depan pintu kamarku.
“Percayalah pada Ibu, Andini,” katanya. Kemudian ia meraih tanganku dan membimbingku menuju balkon. Di sana ia memelukku sangat lama seperti belum pernah memelukku sebelumnya. Aku pun memeluknya, seolah-olah tahu apa yang ada dalam pikirannya dan aku telah siap...
Masih terasa tiupan angin yang sepoi-sepoi di telingaku dan kicauan burung-burung pagi itu ketika ia mengucapkan maaf berkali-kali dan melepaskan pelukannya, membiarkan tubuhku meluncur ke bawah...
Aku pergi.
Aku pergi dengan tenang karena sudah pernah kulihat tempat itu. Sebuah tempat yang hanya kutahu dengan hati. Sebuah rumah yang beratap tinggi menembus langit yang kuyakini dengan hatiku bahwa aku akan berdiam di dalamnya untuk selama-lamanya...

Cigugur, 6 Mei 2007

Baca Seluruhnya..
Category: 2 komentar

Perawat Jenazah

cerpenisasi puisi Naim Ali, “Perawat Jenazah  -

: untuk Bu Zuh, juga semua ibu

/1/
dia perempuan.
urai panjang rambutnya selamanya menghitam malam, sepasang matanya bertoreh baskara, tangan kanan menggenggam fajar yang kiri menadah ranah buritan. kakinya mengayun angin di atas dipan -dinikmati itu seumpama candu- dan bila waktunya datang, ia langkahkan kemana berjalan.
kini jalannya melesat tak terhambat: baginya cuma satu, cabang dan ranting itu semu; maju. katanya kematian tak jemu menunggu.


Suara-suara memanggil namanya sayup sampai di telinga Tugirah, meninggi dan melambat berganti-ganti lalu seperti merambat dalam air dan menggelitik cuping telinga. Bebunyian yang bertahun-tahun dia kenali melebihi pengenalannya akan jumlah usia yang selalu lalai dihitungnya. Sebentar lagi pasti ada yang datang, pikirnya. Dia bangkit, dipan kayu berderit.
“Sudah waktunya. Tapi aku bersumpah, ini yang terakhir,” dia berkata pada refleksi diri yang memantul sehadap cermin. Rambut panjangnya di sisir lalu digelung.
Seorang sepertinya tidak membutuhkan citra, hanya ketulusan, dia bergumam. Satu-satu, perhiasan yang ada pada tubuhnya terlepas: kalung, anting, gelang dan cincin. Perhiasan toh cuma pemanis belaka, tak dibawa mati. Maka tidak patutlah itu bersinggungan dengan orang mati. Hanya perasaan jangan sampai mati.
Diambilnya air wudhu. Tubuhku memang masih hidup, karenanya harus pula suci, kata hatinya ketika dingin air padasan mencapai ujung sikunya.  Tak didengarnya ketukan di pintu yang memanggil-manggil namanya. Tapi ketika anak tertuanya pergi membukakan pintu, dia telah selesai sama sekali dalam bersiap. Dapat didengarnya orang yang datang dan kini telah duduk di kursi ruang tamu itu berkata:
“Pamularsih dan anaknya.”

*****

/2/
bila saja mampu, bukan pada alam ini nyawanya berdiri.
ia lebih tenang jika menyanding matahari dalam kisar galaksi. sebab ia bisa merajuk dayagunanya agar planet dan bintang mungil itu berpijar wajar atau melebur gentar. selaik keindahan tanpa rintih yang menyuara gelegar, begitu tenang dan tenteram.
apalah daya, tetap saja ia kumpulan debu dengan senyawa yang juga diburu. ia bersaksi itu tiap kali akan menggerutu.


Sampai di rumah yang sepi pelayat itu, Tugirah bergerak cepat. Dipintanya beberapa orang membentangkan kain jarit sepanjang yang ada, sebanyak yang ada untuk membunikan pekerjaan yang dilakukan pada mayit. Kali ini ada dua dan seperti yang lalu, hatinya masih saja bergetar. Kematian selalu mendirikan bulu roma. Selalu ada cerita di baliknya, setidaknya sebuah ikhtisar hidup dan lonceng tanda bersiap-siap bagi yang hidup. Seperti dia, kematian baginya adalah agung hingga tak dapat lagi dibedakannya antara mayit-mayit dengan buah hatinya. Mayit adalah anak-anaknya juga dalam satu perbandingan tanpa kesenjangan. Karena jika telah sampai tangannya yang gemetar menyentuh bagian tubuh mereka yang beku, dia selalu dapat merasakan sensasi yang mendesak rahimnya, bagai menjelang sebuah kelahiran.
Dia mencintai mereka seperti orang-orang tamak mencintai mestika.
“Siapa denganku?” tanyanya. Seseorang di luar naungan kain-kain jarit yang dibentangkan memutar pada tiang-tiang bambu secara darurat menjawab dan menyebut nama dua orang. Dua orang yang baru disebut memang beberapa menit kemudian masuk. Tugirah mengenal mereka.
Salah satu dari mereka, yang lebih tua, menyapa basa-basi. Di matanya Tugirah tidak menemukan keikhlasan, hanya pandangan enggan dan jijik. Pada yang seorang lagi pun demikian. Terlihat sinar mata itu meredup dan bergerak-gerak aneh mencari obyek yang lain selain mayit si janda kembang dan anaknya itu. Tugirah mafhum. Dia toh hanya butuh saksi.

*****


/3/
dipersiapkan berlapis gelombang putih untuk dilaraskan. ruah bening dari berbagai mata air dikumpulkan serta digenangi penggal-penggal dunia selebar kelor. tak luput wewangi alam yang bernafas dihimpun sampai nanti dihembus salam.
beruntun, kepada sebujur jasad, ia kabungkan kesemua lapis gelombang itu setelah tetumpah mata air dibasuhkan dan ditiupi salam wangi. sesungguhnya ia tahu, berkali ia menyaksi nyawa mengambang di sela berkasih dan bersayang dibalutkan.


Ada yang harus dibasuh, pikirnya, tak hanya sekedar tubuh yang meriah dengan lebam mayit, tapi bau yang meriap. Diucapkanlah doa, lalu minyak wangi pada buli-buli dituangkan. Tubuh diam Pamularsih dan anaknya yang baru berusia dua tahun itu dijejerkannya dalam satu barisan rapat. Kata orang yang memanggilnya tadi, mayat mereka berdua ditemukan tadi pagi setelah hilang sejak kemarin sore.
Diliriknya kedua orang yang bersamanya. Saat itulah tangan mayit Pamularsih mencengkeram ujung lengan bajunya.
“Selalu yang punya rahasia. Apa yang hendak kau sampaikan, Nduk?” tanya Tugirah. Selalu begini. Apakah karena mayit-mayit yang berada dalam urusannya adalah juga anak-anaknya? Benarkah begitu hingga semua rahasia mereka akan diadukan kepadanya?
Dia melirik kembali kembali kedua orang yang bersamanya. Mereka tengah sibuk mempersiapkan beberapa kebutuhan lain sekaligus memasukkan dan mengeluarkan beberapa yang telah tak digunakan atau yang akan digunakan dengan orang-orang di luar bentangan kain-kain jarit.
Pamularsih berkata memelas, “Nyawaku belum sampai tempatnya, Bu.”
“Lha, kok bisa?” tanya Tugirah. Dimiringkannya mayit ke arah kiri, salah satu dari dua orang yang bersamanya tanggap untuk memercikkan kembali air dari wadahnya. Kening orang itu terlihat berkerut keheranan.
“Bu, “ panggilnya ragu-ragu. Tugirah menggeleng dan memberi isyarat padanya untuk diam saja.
“Sebenarnya aku belum mau mati,” kata Pamularsih saat Tugirah menggosok punggungnya dengan lembut. Sentuhan kasih seorang ibu kepada anak tercinta.
“Tapi sudah terjadi,” kata Tugirah seperti bergumam saja.
“Dia mengajak kami berdua. Katanya akan dibawa minggat diam-diam. Ternyata, belum juga keluar dari jalanan desa ini, dia khianat. Ada anaknya dalam rahimku ini, Bu.”
Tugirah diam. Sudah banyak diketahuinya dari seluruh kematian yang pernah dia temui dan dia tidak ingin menambahnya lagi, sebenarnya. Dia sudah terbiasa mendapati kenyataan yang sebenarnya dari berbagai rahasia tanpa mampu untuk membuat suatu akhiran yang dapat mengubah. Dia tidak punya kemampuan untuk itu. Dia hanya mampu memberikan keseluruhan yang dia mampu untuk menyucikan mayit, bukan menjadi penuntut atau bahkan seorang hakim.
Mayit Pamularsih dan anaknya memanglah dia agungkan benar-benar. Dibuatnya mereka laksana patung-patung pualam yang lolos dari cela dan melimpah dengan kasih sayang darinya karena mayit-mayit itu adalah juga anak-anaknya, buah hatinya. Boleh jadi di kehidupan dunia nama mereka telah tidak tercatat, tapi Tugirah adalah orang yang percaya bahwa kesucian jasad adalah kunci pertama menghadapi siksa kubur.
“Bu Tugirah ingin tahu siapa dia?” tanya Pamularsih ketika tubuhnya telah tertutup kain kafan sepenuhnya. Tugirah menggeleng.
Kedua tangannya terangkat. Berdoa.

*****

/4/
barangkali tak ubahnya seorang musafir. setelah lelah menempuh safar; mengikuti kaki hilir dan memutar badan, ia bujur keseluruh tubuh tanpa mengacuh kiri kanan. yakin ia sudah kumuh. apa peduli dengan selembar tanah yang baru ia gelar. merebah saja dan segala pemandangan dipejam.


Suara-suara itu sayup sampai kembali di telinga Tugirah. Dia bergeming. Dia merasa cukup dan enggan, pun telah bersumpah bahwa kemarin adalah yang terakhir buatnya. Dia merasa sudah cukup mulia dan tak ingin rakus menelannya seorang diri. Toh akan muncul orang selain dirinya, yang lebih fasih dari sekedar membasuh dan menyucikan mayit, yang mempunyai kemampuan lebih untuk mendengar dan mengerti isyarat-isyarat yang ditunjukkan, rahasia-rahasia sebalik kematian. Semoga.
Ketukan-ketukan di pintu rumah tak digubrisnya. Dia tahu, anaknyalah yang akan menemui dia, siapapun yang datang ke rumahnya. Tapi memang suara-suara di kupingnya masih saja memanggil-manggil, dia tidak tahu sampai kapan. Mungkin sampai dia mati.
 Cukup, bisiknya. Lalu dengan ketenangan yang luar biasa dia merebahkan dirinya pada dipan kayu di pojok kamar, menghadap tepat kepada jendela yang terbuka. Keseluruhan indera dia padamkan.
Di depan pintu, anak tertua Tugirah menghadapi tamunya.
“Ada lagi yang meninggal?” tanyanya.

Cigugur, 12 November 2011
Baca Seluruhnya..

Hanya Sebuah Rindu Yang Menebal


- Sebuah Cerpenisasi lagu Iwan Fals: "Rindu Tebal" -

Saya menjatuhkan pantat di kursi terujung gerbong terakhir kereta ekonomi jurusan Cilacap - Surabaya saat kereta bergerak dengan sentakan awal yang kasar. Seorang lelaki yang hendak menempati kursi di hadapan saya sedikit kehilangan keseimbangan, hampir jatuh kalau saja pantatnya tak terantuk lengan kursi dan terbantu reflek tangan saya yang menahan punggungnya dari belakang. Ternyata tangannya tak bebas karena menggandeng seorang anak lelaki sekira berumur 5 tahun yang kemudian dibimbingnya lebih dulu untuk duduk lalu setelah mengucapkan terima kasih dan tersenyum kepada saya, dia meletakkan ransel di lantai gerbong lalu mendorongnya masuk ke kolong.
Senang saya memperhatikan mata anak yang kini duduk di hadapan saya itu. Bulat, besar, terang dan kesan berani terpancar dari sana. Tanpa rasa sungkan dia membalas tatapan saya. Lelaki itu, mungkin ayahnya, kemudian duduk di sampingnya dan memberinya susu kotak.
“Anaknya, Mas?” Lelaki itu tersenyum dan mengangguk menjawab pertanyaan saya.
“Mau kemana?” tanya saya lagi.
“Solo.”
Hanya sebentar, kereta yang berjalan sangat pelan berhenti tiba-tiba dengan sentakan yang sama seperti saat awal bergerak.
“Kok berhenti, Yah?” terdengar anak itu.
“Mau disambung dulu keretanya,” jawab lelaki itu singkat, lalu menoleh lagi pada saya, “Mas-nya mau kemana?”
Saya tersenyum. Entahlah, jika pertanyaan itu ditujukan kepada saya, jadi seperti sebuah pertanyaan yang aneh karena tak pernah bisa saya jawab dengan pasti. Sudah delapan tahun berlalu sejak saya meninggalkan kampung halaman. Selama itu tak pernah saya miliki keberanian untuk pulang. Selalu saja ada yang menyentak dan menahan rindu pada tempatnya, membiarkannya semakin tebal tanpa pernah terlampiaskan.
Saya tak pernah lupa hari itu, hari di mana Bapak mengusir saya dari rumah demi harga diri keluarga. Saya pun punya harga diri biarpun setiap tangan menuding saya sebagai anak nakal yang tak tahu diri. Bukankah disebut nakal, jika seorang anak seperti saya dahulu telah berani mencuri seekor kambing? Tapi bagaimanapun saya tetap tak mau terima dibilang tak tahu diri, karena toh apa yang saya lakukan hanyalah demi keluarga.
“Bapak kecewa dan malu,” teringat saya akan kata-kata pembukaan Bapak waktu itu sementara saya hanya bisa menunduk, sudah hampir menangis.
“Tak peduli semua alasanmu. Bagi Bapak, lebih baik keluarga kita susah sampai mati daripada .........” kalimat Bapak terhenti. Satu kata ‘mencuri’ sepertinya berat dan sangat menyakiti hatinya untuk sekedar diucapkan. Pastilah hatinya itu terluka. Dia, seorang alim yang di sela-sela kerja kerasnya menjadi buruh penggarap sawah orang lain, juga memanjat pohon-pohon kelapa untuk mengumpulkan tetes-tetes nira dari manggar-manggar yang dikutunginya, tapi masih menyempatkan waktu untuk mengajar anak-anak mengaji di langgar justru menghadapi kenyataan bahwa seorang anaknya tega mencorengkan arang hitam di dahinya.
Tak ada kata-kata berlebihan setelahnya, menunjukkan perangainya yang halus, tapi dia memberikan dua pilihan yang sulit: pergi atau malu. Dan saya memilih pergi, justru karena tak ingin seluruh keluarga menjadi lebih malu lagi, sama seperti ketika saya memutuskan untuk mengambil seekor kambing yang tengah digembalakan di sawah.
Sumpah, jika bisa, saya benar-benar ingin memutar lagi waktu sampai ke siang di musim kemarau itu, saat saya bertemu dengan bocah penggembala kambing-kambing milik Pak Haji. Lalu hanya berbicara dengannya. Hanya berbicara dengannya hingga sore, tanpa terjadi apa-apa.
Waktu itu, tanpa sengaja saya melihat bocah itu sedang duduk di bawah naungan rimbun pohon waru sambil bermain-main dengan sebatang kayu yang dipukul-pukulkannya ke akar pohon. Mulutnya bernyanyi, yang akhirnya jadi penyesalan saya, bahwa karena nyanyiannya itulah saya tertarik untuk duduk menyebelahinya.
“Tambah terus kambingnya,” kata saya basa-basi. Saya memang tak terlalu mengenalnya karena Pak Haji memang sengaja mengupah penggembala dari desa tetangga.
“Jelas, ‘kan rajin beranak,” sahutnya nyengir, “Tuh, yang itu juga lagi bunting.” Saya melihat ke arah yang ditunjuknya. Seekor kambing betina yang terlihat besar perutnya. Setidaknya kambing Pak Haji pasti akan bertambah dua ekor dalam beberapa minggu lagi, pikir saya.
“Kalau dijual, berapa harganya kambing paling besar?”
“Nggak tahu. Mungkin 500 ribu dapat.”
Saya mengangguk-angguk. 500 ribu. Pendapatan Bapak sebulan dari mengerjakan sawah orang dan mengumpulkan nira belum tentu sampai setengahnya. Apalagi harga kebutuhan sehari-hari makin mencapai langit. Beberapa kali saya mendengar Emak mengeluh kepada Bapak, karena hutang di warung menumpuk dan lama kelamaan sang pemilik warung terkesan tak ikhlas untuk mengijinkannya berhutang dulu. Karena sering untuk melunasinya, harus menunggu cukup lama.
Tengah kami bercakap-cakap, dua ekor kambing muda jantan kemudian saya lihat saling beradu karena ikatan mereka rupanya terlalu berdekatan. Yang seekor sepertinya sangat ketakutan sehingga membuat gerakan mendadak untuk menghindar hingga ikatan pada patok yang ditancapkan terlepas. Kambing itu lolos dan mengembik-ngembik berlari jauh menerobos pagar bambu batas kebun pinggir sawah.
Bocah penggembala itu sontak melompat dari duduknya, berusaha mengejar kambing nakal itu. Kakinya mencoba menginjak ujung tali tambang yang masih terlihat, tapi tak kena. Kelihatan geram, bocah itu lalu mengambil jalan memutar karena celah pagar bambu ternyata tak bisa dilewatinya. Saya sendiri tak ingat lagi kejadian setelahnya. Hanya sebuah keinginan tiba-tiba seperti menguasai saya. Entahlah, saya lebih condong pada sebuah pilihan untuk mengambil kambing bunting yang kami bicarakan tadi untuk mendapat uang daripada pulang dan mengerjakan sesuatu yang lain yang mungkin memberi perbedaan pada cerita hidup saya setelahnya. Itulah yang terjadi, kambing bunting itu saya lepaskan tali pengikatnya dan menariknya paksa sebelum bocah penggembala itu kembali.
Tentu saja tak semudah yang saya inginkan untuk mendapat 500 ribu dari menjual kambing bunting itu. Siapa yang akan membelinya? Itu sama sekali tak terlintas dalam pikiran sebelumnya. Jadilah saya hanya kebingungan membawa kambing itu kesana kemari sampai hari menjelang sore. Untuk menjualnya, saya bingung kepada siapa. Membawanya begitu saja, orang lama-lama pasti curiga. Baru saya sadari setelah bejalan jauh tanpa tujuan bahwa apa yang telah saya lakukan adalah sebuah kebodohan. Masih jelas dalam ingatan, saya menawarkan kambing itu kepada siapapun yang saya temui di jalan. Kebanyakan mereka mengernyitkan dahi, tapi tak lantas menuduh saya sebagai pencuri. Kenekatan saya menghela seekor kambing bunting di siang bolong begitu membuat mereka tak bercuriga, sepertinya.
Lelah, saya beristirahat hingga tertidur di pinggir jalan, bersandar pada pokok randu. Kambing saya biarkan merumput tak jauh dari sana.
Sepertinya saya tak begitu lama tertidur, sampai seseorang menendang ujung kaki saya.
“Bangun!” bentaknya dengan suara keras disusul sebuah tamparan sendal jepit di pipi saya yang membuat saya gelagapan.
“Dasar maling!” bentak seseorang yang lain, lalu kuping saya kena dijewer. Ternyata Pak Haji pemilik kambing dan anaknya menemukan saya. Saat terpikirkan tentang kambing itu, justru saya lihat bocah gembala yang kecolongan sedang membuka ikatan tali kambing. Wajahnya kelihatan tak senang melihat saya.
“Untung belum dijual,” gerutu anak Pak Haji sambil memakai kembali sendal jepitnya sementara ayahnya memegang tangan saya erat-erat seperti takut akan melarikan diri.
“Hayo.. aku laporkan dulu kamu ke bapakmu!” katanya sengit.
“Nggak ke polisi aja, Pak Haji?” bocah gembala itu nimbrung.
“Biar bapaknya saja yang menghukumnya,” jawab Pak Haji. Lalu saya yang ketakutan mereka dudukkan di bagian depan mobil pikep untuk dibawa pulang ke rumah.
Sesampai di rumah, awalnya Bapak tak mau percaya dengan cerita Pak Haji. Tapi karena saya tak menyangkal, tak ada lain yang dilakukan Bapak kecuali memintakan maaf untuk saya.
“Maafkan anak saya ini, Pak Haji,” kata Bapak. Dalam suaranya terkandung rasa malu yang besar, juga kecewa yang saya rasa jika diderita oleh orang yang lemah jiwanya, akan membuatnya pingsan seketika.
“Kamu harus mendidik anak lebih baik lagi,” kata Pak Haji pada Bapak. “Remaja seperti anakmu ini memang lagi semangat-semangatnya ingin mencoba apapun. Seperti daun kering, jika angin lembut dia tak akan jatuh jauh dari pohonnya. Tapi jika angin kencang, dia bisa terbang dan hilang. Aku tak akan melaporkannya. Toh, tak ada kerugian buatku. Tapi sebaiknya ini bisa dijadikan peringatan.
Bapak membungkuk-bungkuk sambil mengucapkan maaf kepada Pak Haji, lalu memandangi saya antara sayang, kecewa, malu dan marah menjadi satu. Masih saya ingat tatapan matanya itu, seperti selalu jadi ornamen dalam setiap mimpi-mimpi saya kemudian. Lalu dibuatnyalah dua pilihan itu untuk saya.
Saya harus pergi, justru karena saya punya sikap. Penyesalan dan rasa malu tak akan terobati dengan hanya bertahan dan jadi tertawaan orang. Rindu yang saya punya memanglah selalu mendera hingga kini, tapi hanya sering saya anggap bukan sewajarnya.  Ada rasa selalu ingin kembali pulang, tapi saya ragu. Mungkinkah Bapak mau menerima?
*****
Anak kecil di depan saya kelihatan senang sekali ketika kereta hanya maju dan mundur sebelum gerbong terakhir, gerbong di mana kami duduk, tersambung dengan gerbong ekonomi yang datang dari arah Purwokerto.
“Senang ya, Dek?” tanya saya ramah. Dia mengangguk, tapi kemudian merayu ayahnya untuk membawanya melihat sambungan gerbong. Ayahnya tentu saja menolak karena sebentar lagi kereta sudah akan berangkat. Suasana pun mulai ramai. Gerbong ini tadinya memang sepi, tetapi begitu telah tersambung, banyak orang yang awalnya berada di gerbong yang datang dari Purwokerto berpindah ke gerbong kami. Belum lagi penjual-penjual asongan yang ulang-alik menawarkan dagangannya.
Ketika peluit petugas stasiun terdengar dan kereta mulai bergetar lalu bergerak perlahan-lahan, saya bangkit. Lelaki di depan bertanya heran, “Mau kemana, Mas? Nanti tempatnya diambil orang.” Saya hanya tersenyum, mengedipkan mata kepada anak itu lalu sedikit berlari mencapai pintu gerbong untuk meloncat sebelum kereta berjalan semakin cepat.
Panas matahari seperti membakar ubun-ubun ketika saya berjalan menyisiri rel, kembali ke stasiun. Lagi-lagi saya teringat keberanian saya yang masih terlalu tipis untuk pulang. Jika pun bukan keberanian, pastilah itu rasa enggan. Biarlah, dengan selalu duduk di gerbong akhir kereta yang sedang langsir, suatu waktu nanti mungkin saya akan memutuskan untuk tak turun ketika kereta mulai benar-benar berangkat. Itulah waktu yang tepat untuk pulang. Tapi tidak hari ini.
“Nggak jadi pulang lagi? Hidup kok hanya diisi dengan melamun, nggak akan sukses!” kata kawan saya mengejek saat saya kembali menemuinya di tempat parkir. Wajahnya yang merah hitam keseringan terbakar matahari Kroya bertambah menyebalkan di mata saya.
“Urus dirimu sendiri! Mandi aja nggak pernah, apa iya bisa sukses juga?” balas saya.
Dia tertawa. Diacungkannya gitar yang dari tadi tergantung dibahunya. Saya menerimanya. Tangan saya lalu merogoh saku belakang jins butut saya dan menyerahkan apa yang ada di sana. Dia ngakak, tapi saya hanya mengibaskan tangan di depan wajahnya dan berlalu.
“Berapa isinya?” dia bertanya.
“Nggak tahu! Hitung aja sendiri!” kata saya tanpa membalikkan badan. Saya memang belum memeriksa isi dompet yang saya curi diam-diam itu, dompet milik lelaki yang bersama anaknya tadi.
“Kalau kurang dari dua ratus ribu, gitar itu belum lunas lho, ya!” teriaknya.
Saya tak peduli.

Cigugur, 10 Maret 2012


Baca Seluruhnya..